Alice in Wonderland is an upcoming fantasy-adventure film directed by Tim Burton. It is an extension to the Lewis Carroll novels Alice’s Adventures in Wonderland and Through the Looking-Glass. The film will use a [...]
Selasa, 28 Januari 2014
Perjanjian Versailles
Perjanjian Perdamaian antara Sekutu dan Jerman
Perjanjian Versailles (1919) adalah suatu perjanjian
damai yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I antara Sekutu
dan Kekaisaran Jerman. Setelah enam bulan negosiasi melalui Konferensi
Perdamaian Paris, perjanjian ini akhirnya ditandatangani sebagai tindak
lanjut dari perlucutan senjata yang ditandatangani pada bulan November 1918
di Compiègne Forest, yang mengakhiri perseturuan sesungguhnya. Salah
satu hal paling penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah bahwa Jerman
menerima tanggung jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan, melalui aturan
dari pasal 231-247, harus melakukan perbaikan-perbaikan pada negara-negara
tertentu yang tergabung dalam Sekutu.
Negosiasi di antara negara-negara
sekutu dimulai pada 7 Mei 1919, pada peringatan tenggelamnya RMS
Lusitania. Aturan yang diterapkan terhadap Jerman pada perjanjian tersebut
antara lain adalah penyerahan sebagian wilayah Jerman kepada beberapa negara
tetangganya, pelepasan koloni seberang lautan dan Afrika milik Jerman,
serta pembatasan pasukan militer Jerman yang diharapkan dapat menghambat Jerman
untuk kembali memulai perang. Karena Jerman tidak diizinkan untuk mengambil
bagian dalam negosiasi, pemerintah Jerman mengirimkan protes terhadap hal yang
dianggap mereka sebagai sesuatu yang tidak adil, dan selanjutnya menarik diri
dari perundingan. Belakangan, menteri luar negeri baru Jerman, Hermann
Müller, setuju untuk menandatangani perjanjian pada 28 Juni 1919.
Perjanjian ini sendiri diratifikasi oleh Liga Bangsa-Bangsa pada
tanggal 10 Januari 1920.
Di Jerman, perjanjian ini
menimbulkan keterkejutan dan rasa malu yang berperan terhadap runtuhnya Republik
Weimar pada 1933, terutama karena banyak orang Jerman tidak percaya
bahwa mereka harus menerima tanggung jawab penuh sebagai pemicu perang.
"Empat Besar" (Big Four) yang melakukan negosiasi perjanjian ini
adalah Perdana Menteri David Lloyd George dari Britania Raya,
Perdana Menteri Georges Clemenceau dari Perancis, Vittorio
Orlando dari Italia, dan Presiden Woodrow Wilson dari Amerika
Serikat. Jerman tidak diundang ke Perancis untuk mendiskusikan perjanjian.
Di Versailles saat itu, sulit untuk mencapai kesepakatan bersama karena
tujuan mereka saling konflik satu sama lain. Hasil perundingan disebut-sebut
sebagai suatu kompromi yang tidak disukai oleh pihak manapun.
Syarat-syarat
Perjanjian ini menciptakan keadaan
kondusif didirikannya Liga Bangsa-Bangsa, sebuah tujuan utama Presiden
A.S. Woodrow Wilson. Liga Bangsa-Bangsa dimaksudkan untuk menengahi
konflik-konflik internasional dan dengan ini mencegah perang di masa depan.
Hanya empat dari “Empat belas butir” (Fourteen Points) Wilson
diwujudkan, karena ia harus berkompromi dengan Clemenceau, Lloyd
George dan Orlando pada beberapa butir dan sebagai gantinya dapat
mempertahankan butirnya yang “keempatbelas” Liga Bangsa-Bangsa.
Pandangan umum ialah bahwa
Clemenceau dari Perancis adalah yang paling bersemangat dalam membalas dendam
Jerman, Front Barat perang terutama berada di wilayah Perancis. Perjanjian ini
dianggap tidak adil kala itu karena merupakan perdamaian yang didikte oleh para
pemenang dan secara keseluruhan menyalahkan perang kepada Jerman. Hal ini
sungguh menyederhanakan situasi. Beberapa sejarawan modern berpendapat bahwa
perjanjian ini cukup adil karena merefleksikan syarat-syarat berat yang
didiktekan kepada Rusia oleh Jerman dengan Perjanjian Brest-Litovsk.
Daerah yang
Diserahkan
- Alsace-Lorraine, daerah-daerah yang diserahkan kepada Jerman menurut mukadimah perdamaian yang ditandatangani di Versailles pada 26 Februari 1871, dan Perjanjian Frankfurt pada 10 Mei 1871, dikembalikan kepada Perancis tanpa jajak pendapat mulai tanggal gencatan senjata 11 November 1918. (area 14 522 km², penduduk 1.815.000 jiwa (1905)),
- Schleswig Utara termasuk kota-kota yang mayoritas penduduknya adalah Jerman yaitu Tondern (Tønder), Apenrade, Sonderburg, Hadersleben, dan Lügum di Schleswig-Holstein, setelah Jajak Pendapat Schleswig, kepada Denmark (area 3 984 km², penduduk 163.600 jiwa (1920)),
- Provinsi Prusia Posen dan Prusia Barat, yang dicaplok oleh Prusia pada Pembagian Polandia (1772-1795), dikembalikan kepada Polandia yang telah lahir kembali. Wilayah ini telah dibebaskan oleh penduduk Polandia lokal pada Pemberontakan Wielkopolska antara tahun 1918-1919 (area 53 800 km², penduduk 4.224.000 jiwa (1931)).
- Prusia Barat diberikan kepada Polandia supaya Negara ini memiliki akses bebas ke lautan, termasuk minoritas Jerman yang cukup besar dan dengan ini menciptakan Koridor Polandia.
- Wilayah Hlučínsko Hulczyn di Silesia Hulu diberikan kepada Cekoslovakia (area 316 atau 333 km², dengan penduduk 49.000 jiwa),
- bagian timur Silesia Hulu, kepada Polandia (area 3 214 km², dengan penduduk 965.000 jiwa), meski 60% pada jajak pendapat memilih untuk tetap bergabung dengan Jerman
- Kota-kota Jerman Eupen dan Malmedy kepada Belgia wilayah Soldau di Prusia Timur (stasiun kereta api rute Warsawa-Gdańsk) kepada Polandia (area 492 km²), bagian utara Prusia sebagai Memelland di bawah pengawasan Perancis, kemudian diserahkan kepada Lithuania tanpa jajak pendapat. dari bagian timur Prusia Barat dan bagian selatan Prusia Timur (Warmia dan Masuria), sebuah daerah kecil kepada Polandia,
- provinsi Saarland diawasi Liga Bangsa-Bangsa selama 15 tahun. Lalu setelah periode ini diadakan jajak pendapat apakah penduduk menginginkan bergabung dengan Perancis atau Jerman. Pada masa ini, produk batubara diberikan kepada Perancis.
- pelabuhan Danzig (sekarang Gdańsk, Polandia) dengan wilayah muara sungai Wisla pada Laut Baltik dijadikan Freie Stadt Danzig (Kota Bebas Danzig) di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. (wilayah 1 893 km², dengan penduduk 408.000 jiwa (1929).
Dalam Pasal 156 Jerman menyerahkan
konsesi-konsesi Jerman di Shandong, Tiongkok kepada Jepang dan
tidak menyerahkannya kembali ke Tiongkok. Kemarahan warga Tiongkok mengenai
keputusan ini mengakibatkan demonstrasi dan gerakan kebudayaan yang dikenal
dengan istilah Gerakan Empat Mei dan memengaruhi Negara ini untuk tidak
menanda tangani perjanjian. Tiongkok menyatakan selesai perang dengan Jerman
pada September 1919 dan menanda tangani perjanjian terpisah dengan Jerman pada
tahun 1921.
Syarat-Syarat
Militer
Batasan-batasan
Militer
- Selain menyerahkan daerah, ada beberapa batasan untuk Jerman di bidang militer, antara lain:
- Jumlah Tentara Jerman maksimal yang dimiliki Jerman adalah 100.000 orang saja, dan wajib militer dihapuskan
- Jumlah tentara Angkatan Laut Jerman maksimal 15.000 orang
- Jumlah kapal perang bersenjata Jerman maksimal 6 (Dengan ketentuan bobot maksimal 10.000 Ton)
- Jumlah kapal perang gerak cepat Jerman maksimal 6 (Dengan ketentuan bobot maksimal 6.000 Ton)
- Jumlah kapal penghancur Jerman maksimal 12 (Dengan ketentuan bobot maksimal 800 ton)
- Jumlah kapal torpedo Jerman maksimal 12 (Dengan ketentuan bobot maksimal 200 ton)
- Batasan dalam produksi senjata (Contoh: Senapan Mesin Maxim dan Rifle Gewehr 98)
Larangan
Militer
Juga ada beberapa hal yang dilarang
dalam bidang Militer, antara lain
- Jerman dilarang memiliki satu pun kapal selam
- Jerman dilarang melakukan perdagangan senjata antarnegara (Impor-Ekspor senjata)
- Jerman dilarang memiliki gas beracun
- Jerman dilarang memiliki pesawat tempur
- Jerman dilarang memiliki tank dan mobil bersenjata (Artileri Darat)
- Jerman dilarang melakukan blokade terhadap kapal lain
Sebuah Anlisis ORDE BARU : MASA KEEMASAN DAN KEJATUHANNYA
ORDE BARU : MASA KEEMASAN DAN KEJATUHANNYA
Orde Baru adalah masa dimana seorang Presiden Soeharto
berkuasa yang dimulai sejak tahun 1966 dan berakhir pada 1998. Periode tersebut
merupakan salah satu periode terpenting bagi perjalan bangsa ini setelah
menyatakan kemerdekaannya. Selama 32 tahun seorang Presiden dapat berkuasa
memimpin negeri yang sangat luas ini. Kekuasaannya dimulai sejak kejatuhan
Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Dukungan dari militer yang kuat dan setia
serta sekelompok kecil sipil membuat rezim ini dapat berkuasa. Militer
dengan empat angkatannya, yakni darat, laut, udara, dan polisi menjadi pilar
utama rezim ini. Meskipun banyak kritikan menganai hal ini, tetapi fakta
membuktikan bahwa militer tetap menjadi pionir bagi rezim Orde Baru.
Prestasi Presiden Soeharto diawali dengan peristiwa berdarah
yakni tragedi G 30 S 1965. Dia mampu membasmi PKI yang berhaluan komunis. Hal
tersebut mengundang bergam anggapan dari beberapa pengamat. Ada yang memujinya
dan ada pula yang mencelanya karena telah melakukan kejahatan terhadap Hak
Asasi Manusia (HAM). Pembantaian besar-besaran terhadap orang yang dianggap
berhaluan komunis diatandai dengan jatuhnya korban jiwa hingga 500.000 orang.[1] Pada
1968-1969 ratusan orang dijadikan tahanan politik dan mendapat siksaan. Tak
jarang pula ada yang meninggal dunia karena mengalami kelaparan.[2] Peristiwa
ini melahirkan banyak perubahan, mulai dari bidang sosial, politik, ekonomi,
budaya, dan hubungan internasional.
Soeharto diangkat sebagai Penjabat Presiden tahun 1967 dan
pada 1968 resmi menjadi Presiden Republik Indonesia. Pemulihan di bidang
ekonomi menjadi fokus utamanya. Keadaan ekonomi Indonesia dapat dikatakan
sangat merosot pada masa akhir kepemimpinan Soekarno dengan nilai inflasi
sangat tinggi. Setelah diambil alih oleh Soeharto, angka inflasi dapat ditekan
sekitar 100 persen pada 1967.[3] Meskipun
angkanya masih tinggi, tetapi hal tersebut merupakan kemajuan besar bagi
perekonomian Indonesia.
Utang luar negeri juga menjadi warisan dari pemerintahan
Soekarno yang menunggu untuk diselesaikan. Jumlah utang mencapai US$ 2,36
miliar. Akhirnya, dibentuklah ICGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) pada
tahun 1967 untuk membantu mengatasi utang Indonesia. Strategi pintu terbuka
diterapkan bagi masukny para investor asing dan mengendalikan ekonomi dalam
negeri secara tegas.
Kestabilan politik diciptakan oleh rezin Soeharto. Hal
tersebut akan berdampak baik pula bagi kehidupan perekonomian maupun sosial
Indonesia. Kebijakan luar negeri baru diciptakan. Hal ini bertujuan agar
memperoleh bantuan dan menarik para investor asing untuk menanamkan modalnya di
Indonesia. Hubungan yang bersifat regional maupun internasional dipulihkan
kembali. Hubungan dengan Malaysia semakin membaik, Indonesia kembali menjadi
anggota PBB, dan menjadi sponsor terbentuknya ASEAN. Pada organisasi ASEAN,
Indonesia menjadi motor penggerak utama dalam organisasi regional tersebut.
Tindakan represif juga diterapkan oleh rezim Orde Baru dengan mengendalikan
kehidupan pers, mahasiswa, dan masyarakat umum yang mencoba mengusik
kepemimpinan Soeharto.
Pada 1976-1988 dapat dikatan menjadi masa-masa keemasan Orde
Baru. Berbagai program yang diciptakannya mengalami kesuksesan. Program
Keluarga Berencana dijalankan untuk menekan pertumbuhan penduduk yang sangat
tinggi. Tingkat pertumbuhan penduduk dapat ditekan hingga 1,97% pada 1980-an.
Swasembada pangan dan pendidikan juga menjadi perhatian rezim Orde Baru.
Swasembada dilakukan dengan peningkatan produksi beras. Jikalau pada tahun 1969
Indonesia hanya dapat memproduksi beras sebanyak 12,2 juta ton, pada tahun 1984
Indonesia sudah dapat menghasilkan 25,8 juta ton beras. Pendidikan semakin
ditingkatkan dengan membangun 100.000 sekolah di daerah pedalaman dan memperkerjakan
500.000 guru. Hal tersebut menjadikan angka melek huruf semakin meningkat yakni
80,4% bagi laki-laki dan 63,6% bagi perempuan pada 1980. Tak mengherankan jika
dia mendapat gelar sebagai Bapak Pembangunan.
Kesuksesan lain adalah ketika Pemilu 1977. Golkar yang
notabennya adalah partai milik Soeharto mendapat suara mutlak. Sekitar 62,1%
suara masuk ke partai tersebut dan unggul jauh diatas rival-rivalnya (PPP:
29,3%, PDI: 8,6%). Dengan hasil tersebut sudah dapat dipastikan bahwa kursi DPR
maupun MPR secara mayoritas diduduki oleh Golkar. Soeharto pun kembali dipilih
menjadi Presiden Republik Indonesia untuk yang ketiga kalinya.
Keberhasilan dan kejayaan yang dicapai oleh Soeharto dengan
rezim Orde Barunya nampaknya mengalami keruntuhan. Keburukan yang dilakukan
oleh rezim Soeharto mulai nampak ke permukaan semenjak rezim ini mengalami
kemunduran. Periode 1989-1998 merupakan masa tersulit yang harus dilalui oleh
rezim ini. Mulai dari tindakan pelanggaran HAM, pembungkaman pers, korupsi yang
sangat besar, utang luar negeri yang tinggi, dan krisis ekonomi. Separatisme
juga menjadi masalah tersendiri yang harus dihadapi oleh Soeharto ketika Aceh
dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka)-nya ingin memisahkan diri dari Republik
Indonesia.
Setelah kematian isterinya pada 1996 kesehatan Soeharto mulai
menurun. Dia pernah mendapatkan perawatan di Jerman. Kurs dan harga di lantai
bursa juga mengalami dampak akibat kesehatan Soeharto yang memburuk tersebut.
Indonesia mengalami krisis ekonomi yang cukup dahsyat. Krisis yang dialami oleh
Thailand pada Juli 1997 juga berdampak terhadap negara-negara di kawasan Asia
Tenggara termasuk Indonesia. Pada akhir 1997, krisis ekonomi yang dialami
Indonesia berakibat pula terhadap suasana politik Indonesia.[4] Soeharto
mengambil langkah dengan menandatangani perjanjian pemberian utang dengan IMF
(International Monetary Fund).
Beberapa hari sebelum kejatuhan Soeharto merupakan hari-hari
terpanjang yang harus dilaluinya. Tuntutan reformasi dari rakyat terus
menggema. Demonstrasi terjadi diberbgai daerah. Terjadi sebuah insiden ketika
penembak jitu ABRI menembak empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei.[5] Lebih
dari seribu orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada 13-15 Mei.
Suasana negeri ini semakin tidak kondusif.
Soeharto yang kala itu menghadiri sebuah konferensi di Kairo
memutuskan untuk segera kembali ke tanah air pada 15 Mei 1998. Tiga hari
berselang, Harmoko, yang kala itu menjabat sebagai ketua MPR, secara
terang-terangan meminta kepada Soeharto untuk mengundurkan diri. MPR dan ABRI
pun mendukung segera diadakannya sidang istimewa guna memilih presiden yang
baru. Nampaknya usaha yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menggulingkan
Soeharto dari kursi kepresidenannya kala itu telah mendapatkan dukungan dari
pejabat tinggi pemerintahan.
Kajatuhan Soeharto nampaknya tak bisa dihindarkan lagi. Pada
21 Mei pukul sembilan pagi bertempat di Istana Merdeka, dia menyatakan
pengunduran dirinya. Presiden kedua Indonesia tersebut mengeluarkan pernyataan:
“Saya berpandangan bahwa sangat sulit bagi saya untuk melaksanakan tugas-tugas
pemerintahan saya. Saya memutuskan untuk berhenti sebagai Presiden Republik
Indonesia.” [6] B.J.
Habibie yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden ditunjuk untuk
menggantikannya memegang pimpinan tertinggi negara ini.
Indonesia mengalami masa-masa reformasi dibawah presiden
baru, B.J. Habibie. Dia mulai menata kembali kehidupan negeri ini. Ada beberapa
hal pokok yang harus dilakukannya. Masa depan ekonomi dan kesejahteraan rakyat,
ABRI, dan wilayah-wilayah konflik menjadi fokus yang harus segera ia
selesaikan. Sementara itu, masalah penyelesaian kasus yang dihadapi oleh
Soeharto dengan berbagai hal yang telah dilakukannya berjalan lambat. Hal
tersebut memunculkan ketidakpuasan besar dikalangan pendukung reformasi.
Periode rezim Orde Baru hingga kejatuhannya memang menjadi periode kelam dalam
perjalanan negara ini setelah menyatakan kemerdekaannya. Banyak hal yang telah
dilakukan oleh rezim terlama yang pernah ada di negeri ini guna mempertahankan
kekuasaannya tanpa menghiraukan adanya pihak lain yang berada diluar rezim
tersebut.
[1]Asvi Warman Adam, Soeharto Sisi Gelap Sejarah
Indonesia (Yogyakarta:
Penerbit Ombak, 2004), hlm. vi.
[2]Adam Soepardjan, Mendobrak Penjara Rezim
Soeharto (Yogyakarta:
Penerbit Ombak, 2004), hlm. x.
[3]Op. Cit., hlm.
605
[4]van Klinken, Gerry, The Last Days of President Suharto (Clayton: Monash Asia
Institute, 1999), hlm. 1.
[5]Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern
1200-2008 (Jakarta:
Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 689.
[6]Anderson, Ben, Soeharto Lengser Perspektif
Luar Negeri (Yogyakarta:
LKiS, 1998), hlm. 65.
Penataan Kehidupan Politik, Ekonomi dan Sosial Pada Massa Orde Baru
Kehidupan Politik Masa Orde Baru • Upaya untuk
melaksanakan orde baru : 1. Melakukan pembaharuan menuju perubahan seluruh
tatanan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. 2. Menyusun kembali
kekuatan bangsa menuju stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan
menuju masyarakat adil dan makmur. 3. Menetapkan Demokrasi Pancasila guna
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. 4. Melaksanakan
Pemilu secara teratur serta penataan pada lembaga-lembaga negara. Penataan
Politik Dalam Negeri
1. Pembentukan
Kabinet Pembangunan
2. Pembubaran
PKI dan Organisasi masanya
3. Pemilihan
Umum
4. Peran
Ganda ABRI
5. Pemasyarakatan
P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila)
Dan berikut penjelasannya
1. Melanjutkan
perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan
manifestasinya.Ø Melaksanakan politik
luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan nasional. Ø Melaksanakan pemilihan Umum dalam batas waktu yakni 5
Juli 1968. Ø Memperbaiki
kehidupan rakyat terutama di bidang sandang dan pangan. Ø6. 1. Kabinet Pembangunan Kabinet awal pada masa
peralihan kekuasaan (28 Juli 1966) adalah Kabinet AMPERA dengan tugas yang
dikenal dengan nama Dwi Darma Kabinet Ampera yaitu untuk menciptakan stabilitas
politik dan ekonomi sebagai persyaratan untuk melaksanakan pembangunan
nasional. Program Kabinet AMPERA yang disebut Catur Karya Kabinet AMPERA adalah
sebagai berikut :
2. Pembersihan
aparatur negara di pusat pemerintahan dan daerah dari pengaruh PKI.Ø Pengikisan habis sisa-sisa Gerakan 30 September Ø Pelaksanaan Pemilihan Umum Ø Penyusunan dan pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima
Tahun Tahap pertama Ø Penciptaan
stabilitas politik dan ekonomi Ø7.
Selanjutnya setelah sidang MPRS tahun 1968 menetapkan Suharto sebagai presiden
untuk masa jabatan 5 tahun maka dibentuklah kabinet yang baru dengan nama
Kabinet Pemba- ngunan dengan tugasnya yang disebut dengan Pancakrida, yang
meliputi :
Ø
Pembubaran PKI dan Organisasi Massanya Suharto sebagai
pengemban Supersemar guna menjamin keamanan, ketenangan, serta kestabilan
jalannya pemerintahan maka melakukan
Ø
Pembubaran PKI pada tanggal 12 Maret 1966 yang
diperkuat dengan dikukuhkannya Ketetapan MPRS No. IX Tahun 1966.
Ø
Dikeluarkan pula keputusan yang menyatakan bahwa PKI
sebagai organisasi terlarang di Indonesia.
Ø
Pada tanggal 8 Maret 1966 dilakukan pengamanan 15
orang menteri yang dianggap terlibat Gerakan 30 September 1965. Hal ini disebabkan
muncul keraguan bahwa mereka tidak hendak membantu presiden untuk memulihkan
keamanan dan ketertiban.
3. Pemilu
1971 • Pejabat negara harus bersikap netral berbeda dengan pemilu 1955 dimana
para pejabat negara termasuk perdana menteri yang berasal dari partai peserta
pemilu dapat ikut menjadi calon partai secara formal. • Organisasai politik
yang dapat ikut pemilu adalah parpol yang pada saat pemilu sudah ada dan diakui
mempunyai wakil di DPR/DPRD. • Pemilu 1971 diikuti oleh 58.558.776 pemilih
untuk memilih 460 orang anggota DPR dimana 360 orang anggota dipilih dan 100
orang diangkat. • Diikuti oleh 10 organisasi peserta pemilu yaitu Partai
Golongan Karya (236 kursi), Partai Nahdlatul Ulama (58 kursi), Partai Muslimin
Indonesia (24 kusi), Partai Nasional Indonesia (20 kursi), Partai Kristen Indonesia
(7 kursi), Partai Katolik (3 kursi), Partai Islam Perti (2 kursi), Partai Murba
dan Partai IPKI (tak satu kursipun).v9.
3. Pelaksanaan Pemilu Selama masa Orde Baru telah berhasil melaksanakan
pemilihan umum sebanyak enam kali yang diselenggarakan setiap lima tahun
sekali, yaitu: tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.
4. Penyederhanaan
dan Pengelompokan Partai Politik Setelah pemilu 1971 maka dilakukan
penyederhanakan jumlah partai tetapi bukan berarti menghapuskan partai tertentu
sehingga dilakukan penggabungan (fusi) sejumlah partai. Sehingga pelaksanaannya
kepartaian tidak lagi didasarkan pada ideologi tetapi atas persamaan program.
Penggabungan tersebut menghasilkan tiga kekuatan sosial-politik, yaitu : •
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan fusi dari NU, Parmusi, PSII, dan
Partai Islam Perti yang dilakukan pada tanggal 5 Januari 1973 (kelompok partai
politik Islam) • Partai Demokrasi Indonesia (PDI), merupakan fusi dari PNI,
Partai Katolik, Partai Murba, IPKI, dan Parkindo (kelompok partai politik yang
bersifat nasionalis). • Golongan Karya (Golkar)v10.
5. Pemilu 1982 • Pelaksanaan Pemilu ketiga pada
tanggal 4 Mei 1982. Hasilnya perolehan suara Golkar secara nasional meningkat.
Golkar gagal memperoleh kemenangan di Aceh tetapi di Jakarta dan Kalimantan
Selatan Golkar berhasil merebut kemenangan dari PPP. Golkar berhasil memperoleh
tambahan 10 kursi sementara PPP dan PDI kehilangan 5 kursi.v Pemilu 1977 • Sebelum dilaksanakan Pemilu 1977
pemerintah bersama DPR mengeluarkan UU No.3 tahun 1975 yang mengatur mengenai
penyederhanaan jumlah partai sehingga ditetapkan bahwa terdapat 2 partai
politik (PPP dan PDI) serta Golkar. Hasil dari Pemilu 1977 yang diikuti oleh 3
kontestan menghasilkan 232 kursi untuk Golkar, 99 kursi untuk PPP dan 29 kursi
untuk PDI. v11.
6. Pemilu
1992 • Pemilu tahun 1992 diselenggarakan pada tanggal 9 Juni 1992 menunjukkan
perubahan yang cukup mengagetkan. Hasilnya perolehan Golkar menurun dari 299
kursi menjadi 282 kursi, sedangkan PPP memperoleh 62 kursi dan PDI meningkat
menjadi 56 kursi.v Pemilu 1987 • Pemilu
tahun 1987 dilaksanakan pada tanggal 23 April 1987. Hasil dari Pemilu 1987
adalah : • PPP memperoleh 61 kursi mengalami pengurangan 33 kursi dibanding
dengan pemilu 1982 hal ini dikarenakan adanya larangan penggunaan asas Islam
(pemerintah mewajibkan hanya ada satu asas tunggal yaitu Pancasila) dan
diubahnya lambang partai dari kabah menjadi bintang. • Sementara Golkar
memperoleh tambahan 53 kursi sehingga menjadi 299 kursi. • PDI memperoleh
kenaikan 40 kursi karena PDI berhasil membentuk DPP PDI sebagai hasil kongres
tahun 1986 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam. v12.
7. Pemilu
1997 • Pemilu keenam dilaksanakan pada 29 Mei 1997. Hasilnya: • Golkar
memperoleh suara mayoritas perolehan suara mencapaiv13. 74,51 %
dengan perolehan kursi 325 kursi. • PPP mengalami peningkatan perolehan suara
sebesar 5,43 % dengan perolehan kursi 27 kursi. • PDI mengalami kemerosotan
perolehan suara karena hanya mendapat 11 kursi di DPR. Hal ini disebabkan
karena adanya konflik internal dan terpecah antara PDI Soerjadi dan PDI
Megawati Soekarno Putri. Penyelenggaraan Pemilu yang teratur selama Orde Baru
menimbulkan kesan bahwa demokrasi di Indonesia sudah tercipta. Apalagi pemilu
itu berlangsung secara tertib dan dijiwai oleh asas LUBER(Langsung, Umum,
Bebas
8. Peran
Ganda ABRI Guna menciptakan stabilitas politik maka pemerintah menempatkan
peran ganda bagi ABRI yaitu sebagai peran hankam dan sosial. Sehingga peran
ABRI dikenal dengan Dwifungsi ABRI. Dwifungsi adalah suatu doktrin di
lingkungan militer Indonesia yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua tugas,
yaitu pertama menjaga keamanan dan ketertiban negara dan kedua memegang
kekuasaan dan mengatur negara. Dengan peran ganda ini, militer diizinkan untuk
memegang posisi di dalam Kedudukan TNI dan Polri dalam pemerintahan adalah sama
di lembaga MPR/DPR dan DPRD mereka mendapat jatah kursi dengan pengangkatan.
Pertimbangan pengangkatannya didasarkan pada fungsi stabilisator dan
dinamisator.
9. Pemasyarakatan
P4 • Pada tanggal 12 April 1976, Presiden Suharto mengemukakan gagasan mengenai
pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila yaitu gagasan Ekaprasetia
Pancakarsa. Gagasan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai Ketetapan MPR dalam
sidang umum tahun 1978 mengenai “Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila”
atau biasa dikenal sebagai P4. • Guna mendukung program Orde baru yaitu
Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen maka sejak tahun
1978 diselenggarakan penataran P4 secara menyeluruh pada semua lapisan
masyarakat. • Tujuan dari penataran P4 adalah membentuk pemahaman yang sama
mengenai demokrasi Pancasila sehingga dengan pemahaman yang sama diharapkan
persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara. Melalui
penegasan tersebut maka opini rakyat akan mengarah pada dukungan yang kuat
terhadap pemerintah Orde Baru. • Pelaksanaan Penataran P4 tersebut menunjukkan
bahwa Pancasila telah dimanfaatkan oleh pemerintahan Orde Baru. Hal ini tampak
dengan adanya himbauan pemerintah pada tahun 1985 kepada semua organisasi untuk
menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal. Penataran P4 merupakan suatu bentuk
indoktrinasi ideologi sehingga Pancasila menjadi bagian dari sistem
kepribadian, sistem budaya, dan sistem sosial masyarakat Indonesia.
10. Penataan
Politik Luar Negeri 1. Kembali menjadi anggota PBB 2. Pemulihan hubungan dengan
Singapura 3. Pemulihan hubungan dengan Malaysia 4. Pembentukan Organisasi
ASEAN.
11. Kembali menjadi anggota PBB • Indonesia
kembali menjadi anggota PBB dikarenakan adanya desakan dari komisi bidang
pertahanan keamanan dan luar negeri DPR GR terhadap pemerintah Indonesia. Pada
tanggal 3 Juni 1966 akhirnya disepakati bahwa Indonesia harus kembali menjadi
anggota PBB dan badan-badan internasional lainnya dalam rangka menjawab
kepentingan nasional yang semakin mendesak. Keputusan untuk kembali ini
dikarenakan Indonesia sadar bahwa ada banyak manfaat yang diperoleh Indonesia
selama menjadi anggota PBB pada tahun 1950-1964. Indonesia secara resmi
akhirnya kembali menjadi anggota PBB sejak tanggal 28 September 1966. •
Kembalinya Indonesia mendapat sambutan baik dari sejumlah negara Asia bahkan
dari pihak PBB sendiri hal ini ditunjukkan dengan ditunjuknya Adam Malik
sebagai Ketua Majelis Umum PBB untuk masa sidang tahun 1974. Kembalinya
Indonesia menjadi anggota PBB dilanjutkan dengan tindakan pemulihan hubungan
dengan sejumlah negara seperti India, Filipina, Thailand, Australia, dan
sejumlah negara lainnya yang sempat remggang akibat politik konfrontasi Orde
Lama.
12. Pemulihan
Hubungan Dengan Singapura Sebelum pemulihan hubungan dengan Malaysia Indonesia
telah memulihkan hubungan dengan Singapura dengan perantaraan Habibur Rachman
(Dubes Pakistan untuk Myanmar). Pemerintah Indonesia menyampikan nota pengakuan
terhadap Republik Singapura pada tanggal 2 Juni 1966 yang disampikan pada
Perdana Menteri Lee Kuan Yew. Akhirnya pemerintah Singapurapun menyampikan nota
jawaban kesediaan untuk mengadakan hubungan diplomatic.
13. Pemulihan
Hubungan dengan Malaysia • Indonesia segera memulihkan hubungan dengan Malaysia
yang sejak 1964 terputus. Normalisasi hubungan Indonesia dan Malaysia dimulai
dengan diadakan perundingan di Bangkok pada 29 Mei-1 Juni 1966 yang
menghasilkan perjanjian Bangkok, yang berisi: I. Rakyat Sabah dan Serawak
diberi kesempatan menegaskan kembali keputusan yang telah mereka ambil mengenai
kedudukan mereka dalam Federasi Malaysia. II. Pemerintah kedua belah pihak
menyetujui pemulihan hubungan diplomatik. III. Tindakan permusuhan antara kedua
belah pihak akan dihentikan. Peresmian persetujuan pemulihan hubungan
Indonesia-Malaysia oleh Adam Malik dan Tun Abdul Razak dilakukan di Jakarta
tanggal 11 agustus 1966 dan ditandatangani persetujuan Jakarta (Jakarta
Accord). Hal ini dilanjutkan dengan penempatan perwakilan pemerintahan di
masing-masing negara..
14. Pembentukan
Organisasi ASEAN Association of Southeast Asian Nations atau Perhimpunan
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau dikenal ASEAN. ASEAN merupakan organisasi
regional yang dibentuk atas prakarsa lima menteri luar negeri negara-negara di
kawasan Asia tenggara. Kelima menteri Luar negeri tersebut adalah : 1. Narsisco
Ramos dari Filipina 2. Adam Malik dari Indonesia 3. Thanat homan dari Thailand
4. Tun Abdul Razak dari Malaysia 5. S. Rajaratnam dari Singapura
Penandatanganan naskah pembentukan ASEAN dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus
1967 di bangkok sehingga naskah pembentukan ASEAN itu disebut Deklarasi
Bangkok.
15. Kehidupan
Ekonomi Masa Orde Baru Struktur perekonomian Indonesia pada tahun 1950-1965
dalam keadaan kritis. Pada masa Demokrasi Terpimpin, negara bersama aparat
ekonominya mendominasi seluruh kegiatan ekonomi sehingga mematikan potensi dan
kreasi unit-unit ekonomi swasta. Sehingga, pada permulaan Orde Baru program
pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada
usaha mengendalikan tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara dan
pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Tindakan pemerintah ini dilakukan karena
adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi
kurang lebih 650 % setahun. Hal itu menjadi penyebab kurang lancarnya program
pembangunan yang telah direncanakan pemerintah. Secara garis besar, upaya
pemulihan struktur perekonomian dan pembangunan pada masa orde baru, pemerintah
menempuh cara sebagai berikut : 1) Stabilisasi dan Rehabilitasi Ekonomi 2)
Kerja Sama Luar Negeri 3) Pembangunan Nasional
16. Stabilisasi
dan Rehabilitasi Ekonomi Untuk mengatasi keadaan ekonomi yang kacau sebagai
peninggalan pemerintah Orde Lama, pemerintah Orde Baru melakukan langkah-
langkah: • Memperbaharui kebijakan ekonomi, keuangan, dan pembangunan.
Kebijakan ini didasari oleh Ketetapan MPRS No. XXIII/MPRS/1966. • MPRS
mengeluarkan garis program pembangunan, yakni program penyelamatan, program
stabilisasi dan rehabilitasi. Yang dimaksud dengan stabilisasi ekonomi berarti
mengendalikan inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak terus. Dan
rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan secara fisik sarana dan prasarana
ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem ekonomi berencana
yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya masyarakat
adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
17. Langkah-langkah
yang diambil Kabinet Ampera yang mengacu pada Ketetapan MPRS tersebut adalah:
a) Mendobrak kemacetan ekonomi dan memperbaiki sektor-sektor yang menyebabkan
kemacetan. Adapun yang menyebabkan terjadinya kemacetan ekonomi tersebut
adalah: • Rendahnya penerimaan negara. • Tinggi dan tidak efisiennya
pengeluaran negara. • Terlalu banyak dan tidak efisiennya ekspansi kredit bank.
• Terlalu banyak tunggakan hutang luar negeri. • Penggunaan devisa bagi impor
yang sering kurang berorientasi pada kebutuhan prasarana. b. Debirokrasi untuk
memperlancar kegiatan perekonomian. c. Berorientasi pada kepentingan produsen
kecil. Untuk melaksanakan langkah-langkah penyelamatan tersebut, maka
pemerintah Orde Baru menempuh cara-cara : 1. Mengadakan operasi pajak 2.
Melaksanakan sistem pemungutan pajak baru, baik bagi pendapatan perorangan
maupun kekayaan dengan cara menghitung pajak sendiri dan menghitung pajak
orang. 3. Menghemat pengeluaran pemerintah (pengeluaran konsumtif dan rutin),
serta menghapuskan subsidi bagi perusahaan Negara. 4. Membatasi kredit bank dan
menghapuskan kredit impor.
18. Pertemuan
Tokyo • Orde Lama mewariskan utang luar negeri yang sangat besar yakni mencapai
2,2-2,7 miliar, sehingga pemerintah Orde Baru meminta negara-negara kreditor
untuk dapat menunda pembayaran kembali utang Indonesia. • Pada tanggal 19-20
September 1966 pemerintah Indonesia mengadakan perundingan dengan negara-
negara kreditor di Tokyo.v24. Kerja sama Luar
Negeri
19. Pemerintah
Indonesia akan melakukan usaha bahwa devisa ekspor yang diperoleh Indonesia
akan digunakan untuk membayar utang yang selanjutnya akan dipakai untuk
mengimpor bahan-bahan baku. Hal ini mendapat tanggapan baik dari negara-negara
kreditor. Perundinganpun dilanjutkan di Paris, Perancis dan dicapai kesepakatan
sebagai berikut : 1. Pembayaran hutang pokok dilaksanakan selama 30 tahun, dari
tahun 1970 sampai dengan 1999. 2. Pembayaran dilaksanakan secara angsuran,
dengan angsuran tahunan yang sama besarnya. 3. Selama waktu pengangsuran tidak
dikenakan bunga. 4. Pembayaran hutang dilaksanakan atas dasar prinsip
nondiskriminatif, baik terhadap negara kreditor maupun terhadap sifat atau
tujuan kredit.
20. Pertemuan
Amsterdam • Pada tanggal 23-24 Februari 1967 diadakan perundingan di Amsterdam,
Belanda yang bertujuan membicarakan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar
negeri serta kemungkinan pemberian bantuan dengan syarat lunas, yang
selanjutnya dikenal dengan IGGI (Intergovernmental Group for Indonesia). •
Pemerintah Indonesia mengambil langkah tersebut untuk memenuhi kebutuhannya
guna pelaksanaan program-program stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi serta
persiapan-persiapan pembangunan. • Di samping mengusahakan bantuan luar negeri
tersebut, pemerintah juga berusaha dan telah berhasil mengadakan penangguhan
serta memperingan syarat- syarat pembayaran kembali (rescheduling) hutang-
hutang peninggalan Orde Lama.v
21. Stabilitas
nasional yang sehat dan dinamis.Ø
Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Ø
Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan
sosial bagi seluruh rakyat. Pembangunan Nasional Tujuan Pembangunan nasional
adalah menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan
spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pelaksanaannya
pembangunan nasional dilakukan secara bertahap yaitu: 1) Jangka panjang
mencakup periode 25 sampai 30 tahun 2) Jangka pendek mencakup periode 5 tahun
(Pelita/Pembangunan Lima Tahun), merupakan jabaran lebih rinci dari pembangunan
jangka panjang sehingga tiap pelita akan selalu saling
berkaitan/berkesinambungan. Pelaksanaan Pembangunan Nasional yang dilaksanakan
pemerintah Orde Baru berpedoman pada Trilogi Pembangunan dan Delapan jalur
Pemerataan. Inti dari kedua pedoman tersebut adalah kesejahteraan bagi semua
lapisan masyarakat dalam suasana politik dan ekonomi yang stabil. Isi Trilogi
Pembangunan adalah :
22. Menitikberatkan
pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang
mengolah bahan baku menjadi barang jadi.Ø
pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7% per tahun. Pada awal pemerintahan
Orde Baru laju inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I laju inflasi turun
menjadi 47%. Selanjutnya pada tahun keempat Pelita II, inflasi turun menjadi
9,5%. 3) Pelita III (1 April 1979 hingga 31 Maret 1984.) Ø Sasaran utamanya adalah tersedianya pangan,
sandang,perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat dan memperluas
kesempatan kerja. Ø Menitik beratkan
pada sektor pertanian dengan meningkatkan insdutri yang mengolah bahan mentah
menjadi bahan baku. Ø Tujuannya adalah
untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi
pembangunan dalam tahap berikutnya dengan sasaran dalam bidang Pangan, Sandang,
Perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan
kesejahteraan rohani. 2) Pelita II (1 April 1974 hingga 31 Maret 1979.) Ø Menitik beratkan pada sektor pertanian dan industri
yang mendukung sektor pertanian. Selama masa Orde Baru terdapat 6 Pelita, yaitu
: 1) Pelita I (1 April 1969 hingga 31 Maret 1974)
23. Pada
periode ini terjadi krisis moneter yang melaØ
Sektor ekonomi dipandang sebagai penggerak utama pembangunan. Pembangunan
nasional Indonesia dari pelita ke pelita berikutnya terus mengalami peningkatan
keberhasilan pembangunan. Ø
Titik beratnya masih pada pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan
industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya
manusia sebagai pendukungnya. Ø
Indonesia memiki kondisi ekonomi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi
rata-rata 6,8 % per tahun. 6) Pelita VI (1 April 1994 hingga 31 Maret 1999.) Ø Titik beratnya pada sektor pertanian dan industri. Ø Terjadi resesi pada awal tahun 1980 yang berpengaruh
terhadap perekonomian Indonesia. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan
moneter dan fiskal sehingga kelangsungan pembangunan ekonomi dapat
dipertahankan. 5) Pelita V (1 April 1989 hingga 31 Maret 1994.) Ø Titik beratnya adalah sektor pertanian menuju
swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin
industri sendiri. Pelita IV (1 April 1984 hingga 31 Maret 1989.) nda
negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan
peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian menyebabkan rezim
Orde Baru runtuh.
24. Kondisi Keamanan pada masa Orde Baru Kondisi
keamanan yang terjadi di permulaan awal Orde baru sangat kacau dan sulit
dikendalikan. banyaknya aksi demonstran yang sampai menewaskan seorang
mahasiswa. Keadaan kembali membaik setelah presiden soeharto menumpas pki yang
menjadi ancaman keamanan nasional. pada zaman orde baru jarang ditemukan demo.
Karena siapa saja yang berani menentang oeharto akan menerima hukuman yang
berat.
25. kopkamtib
• Presiden Soeharto menggunakan kopkamtib untuk memelihara dan meningkatkan
stabilitas keamanan dan ketertiban di dalam rangka mewujudkan stabilitas
nasional sebagai syarat mutlak bagi berhasilnya pelaksanaan Repelita pada
khususnya dan pembangunan jangka panjang pada umumnya. • Selama 23 tahun dari
pemerintahan Orde Baru, Kopkamtib telah menjadi gugus tugas pemerintah militer
untuk melaksanakan kegiatan keamanan dan intelejen. Lewat serangkaian kegiatan
tersebut, Kopkamtib dapat menggunakan seluruh aset dan personalia pemerintahan
sipil di Indonesia demi kepentingan apa yang disebut pemerintah Orde Baru
sebagai mempertahankan pelaksanaan pembangunan yang berdasarkan Pancasila dan
UU 1945.
26. Bakorstanas
• Tahun 1988, Presiden Soehartomem bubarkan lembaga ini (kopkamtib) dan
menggantikannya dengan Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional
(Bakorstanas). Bakorstanas bertujuan memulihkan, mempertahankan dan
meningkatkan stabilitas nasional, juga bertindak sebagai penasehat dan
dikepalai oleh Panglim ABRI yang langsung melapor kepada presiden. Walaupun
begitu hampir seluruh staf Kopkamtib dan seluruh peran yang dimainkan oleh
organisasi terdahulu juga dilakukan oleh Lembaga baru in
Langganan:
Postingan (Atom)